Sebagai penikmat film , saya sangat menikmati melihat apresiasi masyarakat terhadap perfileman baik dunia maupun negeri sendiri. Saya sangat menantikan acara penghargaan yang memberikan penghormatan terhadap kerja keraspara sineas atas karya-karya luar biasa yang mereka hasilkan semisal OSCAR, Golden Globe, Cannes, dan tentu saja produk sendiri Piala Citra.
Tapi tahun ini sungguh saya sangat kecewa menanggapi pengumuman nominasi sampai kepada perayaan pemenang yang ternyata sangat jauh dari harapan.
Sebuah film “EKSKUL” yang justru tak pernah ada dalam wacana dinyatakan menang mutlak mengalahkan film terlaris , karya original anak bangsa , tema unik sampai gambar dengan sinematografi terbaik bahkan melemparkan 2 buah film yang mendapatkan pengakuan dari dunia sebagai film terbaik yaitu Berbagi Suami dan Opera Jawa dari posisis 5 besar. EKSKUL ternyata tampil mengedepan padahal paket yang ditawarkannya standart. Film yang sama sekali tidak menyita perhatian bahkan tidak dipedulikan (atau dalam kamus saya, film ini bahkan tidak mampu untuk membuat kaki saya melangkah menuju bioskop) dengan kualitas akting pemainnya yang rata-rata air yang memperparah ide cerita tak originil dan ternyata tanpa ijin menggunakan original score film lain ternyata berhak menggondol pulang piala kebanggan perfileman Indonesia. Pasti ada sesuatu yang salah ataukah hanya perasaan saya saja.
Tapi kalo dipikirkan sebenarnya pemilihan EKSKUL tidaklah mengherankan jika melihat kondisi perfileman dan dunia sinetron dan TV di Indonesia saat ini. Pemilihan EKSKUL merupakan puncak “Keplagiatan” dunia film dan sinetron Indonesia dewasa ini. Sehingga jika dilihat melalui tolak ukur dan kacamata “Keplagiatan” maka EKSKUL amatlah sangat layak menang dibandingkan para nominasi yang lain.
Sebagai penikmat film dan sinetron, jujur saya sangat amat kecewa dengan kemundurannya. Kualitas dan kreativitas bukanlah menjadi harga mati dan dilupakan tergantikan oleh rating dan hal-hal materiil yang mengedepankan keinginan pasar. Dari hari ke hari kita disuguhi tayangan yang menjiplak sehingga akhirnya “plagiat” pun seakan disahkan demi alasan rating…….
Saya punya bukti tentang “keplagiatan” sinetron Indonesia bahkan jarang sekali ada sinetron yang asli dari pemikiran penulis tanpa menjiplak…..
Senin
1. Pengantin Remaja jelas menjiplak My Little Bride baik versi layar lebar maupun serialnya
2. Idola ide cerita terlihat seperti Disney’s High School Musical
3. Gue Sihir Lo menyerupai Sabrina The Teenage Witch
Selasa
1. Kau Masih Kekasihku yang terang-terangan mengakui versi Indonesia The Dolphin Bay
2. Bukan Diriku yang ide cerita nya sama dengan sebuah serial Jepang yang dulu pernah tayang di Indosiar tetapi saya lupa judulnya
3. Baby Doll yang sama persis dengan serial Taiwan “Love Storm” yang dibintangi oleh Vic Zhou dan Ken Zhu yang memperebutkan Vivian Chow. Dan serial ini sudah pernah tayang di Indosiar sebagai pengganti Meteor Garden 2 bahkan saking miripnya gaya dandanan mereka pun sama.
Rabu
1. Benci Bilang Cinta yang menjiplak habis Princess Hours yang saat itu juga tengah ditayangkan di Indosiar.
Kamis
1. Pangeran Penggoda yang mempunyai kesamaan cerita dengan sinetron yang dibintangi oleh Verlita dan Tengku Wisnu di SCTV yang ternyata menjiplak sebuah serial Taiwan “The Devil beside me” yang dibintangi Rainie Yang dan versi aslinya akan segera ditayangkan Indosiar. Lucunya bahkan dari sisi penyutradaraan(setting dan akting) ketiga sinetron tersebut sama.
Jumat
1. Sumpah Gue Sayang Lo punya kesamaan dengan My Love Pazta sebuah drama Taiwan yang telah hadir dalam bentuk VCD
2. I love U boss hampir sama dengan sebuah drama Korea yang kalo tidak salah pernah ditayangkan oleh Indosiar tapi saya lupa judulnya dan kalo tidak salah juga yang berperan adalah Jang Na Ra
Minggu
1. Sebuah sinetron yang dibintangi Laudya Chintya Bella “Cinta remaja” jelas-jelas menjiplak sebuah serial Korea yang judulnya “My Sassy Girl Chun Yang” dan serial ini sudah pernah ditayangkan di Indosiar bahkan di re-run karena banyak penggemarnya.
Bahkan saya masih bisa menyebutkan sederet sinetron lain yang pernah tayang yang sangat jelas terlihat kesamaan segala sesuatunya bukan hanya ide cerita. Contohnya :
1. Impian Cinderela yang menjiplak The Prince Who Turn Into A Frog
2. Buku Harian Nayla yang digemari pun ternyata menjiplak sebuah serial drama Jepang yang akan segera ditayangkan di Indosiar yang judulnya I litre of Tears
Atau masih ingatkah anda akan sinetron yang dibintangi Leony dan Indra Bruggman yang mirip sekali dengan Meteor Garden namun ketika ramai diberitakan akhirnya terpaksa ending cerita dibelokkan jauh.
Dari semua bukti diatas maka sama sekali tidak salah jika EKSKUL berkumandang sebagai film “Plagiat” terbaik. Jika masyarakat setiap hari disuguhi dengan tayangan berbau plagiat maka akhirnya pola pikir mereka menganggap bahwa “Plagiat” adalah hal yang baik yang wajar ketika seorang mendapatkan inspirasi dari sebuah karya lain.
Sebagai seorang awam yang sedang mencoba menghasilkan sebuah karya, ketidakberesan mulai saya rasakan saat pengumuman nominasi FFFI 2006, bayangkan saat ke 2 film jagoan saya tidak masuk dalam nominasi film terbaik padahal jika yang disebutkan alasan tema tidak cukup kuat…..apanya yang tidak cukup kuat?
Berbagi Suami mengangkat tema poligami yang sampai hari ini masih terlalu tabu dibicarakan (this movie was made far away before AA Gym decided to admit publicly his second wedding) Atau Opera Jawa yang bahkan masuk kedalam dan mengangkat budaya Jawa. Tapi anehnya justru tema “kreatif” ini disingkirkan dari perhelatan piala Citra.
Belum lagi pada nominasi aktor terbaik, tak nampak nama Tio Pakusadewo maupun Lukman Sardi yang bermain apik di Berbagi Suami tapi justru seorang Rizky Hanggono yang durasi kemunculannya di Jomblo pun bahkan bisa dihitung jari pun dengan akting standart. Jika para juri yang terhormat mau berepot ria membaca Jomblo karya Adhitya Mulya maka mereka akan tahu kalo tokoh Olip adalah powerfull and soulfull man yang tersimpan rapi sehingga ia tak bisa mengeluarkan isi hatinya. Tak ada kata atau tindakan hanya mimik muka dan mata yang mengeluarkan berjuta makna. Ketika melihat akting Rizky Hanggono jujur saya tidak bisa merasakan cinta Olip pada karakter VJ Rianti. Ketika membicarakan durasi penampilannya dalam film JOMBLO yang hampir sama dengan Dennis Adhiswara kenapa keduanya dibedakan….Dennis dinominasikan sebagai actor pendukung terbaik sedangkan risky actor utama terbaik…aneh kan?
Dan tibalah pada saat penganugerahan piala Citra……
Keanehan itu saya raskan kembali saat pengumuman pemenang aktris pendukung terbaik yang dimenangkan Kinaryosih, mengalahkan seorang istri intelek dingin yang harus merelakan dirinya dipoligami (Jajang C.Noer) atau mengalahkan akting prima seorang istri yang hidup dalam dunia poligami dan justru menemukan dirinya terjebak cinta terlarang dengan sesama istri suaminya (Rieke Dyah Pitaloka) bahkan seorang istri dengan penerimaan tulus untuk dipoligami yang sangat berbeda dari peran-peran Ria Irawan sebelumnya. Yang membuat saya marah adalah karakter Kinaryosih yang menurut saya tidak susah untuk diekspresikan, seorang kakak yang mencintai adiknya dengan tulus, semua orang bisa dengan sangat mudah memainkan karakter itu.
Kekecewaan saya sedikit terobati ketika Albert tampil dipanggung dan membuat saya merinding dengan suara emasnya menyanyikan lagu dari Denias, Albert memang layak menang.
Tapi larut kekecewaan datang lagi tanpa diduga ketika Nayato mengambil alih Piala Citra untuk sutradara terbaik. Nayato mengalahkan nama besar serta kedasyatan Jhon De Rantau membuat Denias yang mampu menampilkan sisi lain Papua, atau karya surealis Teddy yang membangun mood penonton sedemikian rupa, ataupun epik penuh makna Garin Nugroho, atau cerita cinta terlaris Hanny, hingga realitas kehidupan nyata yang dipotret Nia Dinata tak mampu membuat juri berpaling sejenak menengok kreativitas mereka.
Bahkan dengan seremonial luar biasa dengan kereta kencana dan puluhan penari elok hingga titik airmata profesional Melly Goeslaw saat menyanyikan “Citra” tak mampu menutupi riuh rendah cacian para penikmat dan pemerhati film terhadap penyelenggaraan FFFI 2006 ketika EKSKUL ditahbiskan sebagai film terbaik. Sekali lagi saya berpikir bahwa juri-juri itu mabuk ketika memutuskannya. Ternyata pengalaman puluhan tahun dalam dunia film tidak lantas membuat mereka jago dalam memilih pemenang dan tetap mereka tidak bisa menonton film. Bagi saya, bagaimana mungkin film dengan khayalan tingkat tinggi (bisa membeli senjata secara gampang di daerah kumuh) mungkin ceritanya kisah nyata tapi yang jelas hal tersebut tidak terjadi di Indonesia tapi di belahan bumi yang lain yang berbeda kultur maupun cara pikir dengan kita ditambah musik jiplakan yang diakui karya original score sebagai penata suara terbaik, ternyata tak dinyana hal-hal ngawur seperti ini mampu meraih poin tertinggi.
Dengan segala hormat, para juri mungkin punya nama besar dan pengalaman segudang, nah berbekal dengan itu mereka memutuskan seenaknya dan menganggap diri apriori. Satu yang saya rasakan kurang dari dewan juri, “their losing their magical touch” mereka tidak mau belajar dan mengakui bahwa dunia film telah berubah. Maka kemudian sangatlah heran ketika dunia Internasional mulai menghargai film Indonesia tetapi ternyata tidak mendapatkan penghargaan serupa di negaranya sendiri……IRONIS
Sebagai penikmat film, jelas saya ingin mendapatkan sesuatu yang bisa membuat kaki saya melangkah ke bioskop dan menontonnya setelah itu ketika pulang I could learn something from it. Sebenarnya apakah essensi dari film itu, sarana berkreasi, sarana dimana kita dapat menyentuh hidup orang lain, sebagai sarana kritik ataukah hanya mesin pengeruk keuntungan dan popularitas.
EKSKUL, bagi saya film tidak ada artinya ini ternyata penting dalam sejarah perfileman nasional. EKSKUL ternyata mengucurkan semangat perjuangan para sineas muda tuk mengembalikan tongkat kepemimpinan ke tangan mereka serta memaknai kembali essensi film yang sejati.
Meki ternyata amat susah dikatakan tapi “Terima Kasih EKSKUL”
Boikot pemilihan EKSKUL sebagai film terbaik FFFI 2006 dan jangan biarkan karya terbaik anak bangsa dinodai plagiat-plagiat berkantong tebal
Hidup Film Indonesia dan para Sineas Muda
Penikmat Film
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment